Friday, 7 August 2015

Reuni MIN

Bagi kalian yang tidak tahu apa itu MIN (Madrasah Ibtidaiyah Negeri) yaitu tingkatan akademik yang setingkat dengan SD (Sekolah Dasar) namun, MIN memiliki pelajaran agama yang lebih banyak (satu pelajaran agama di SD dicabangkan lagi menjadi beberapa mata pelajaran). Supaya mudah untuk dipahami, kita sebut saja SD.

Setelah delapan tahun lamanya, kami bisa berkumpul kembali dalam acara reuni SD sederhana yang diadakan di rumah salah satu teman kami. Tak menyangka juga karena yang datang hampir satu kelas. Aku kira dengan kesibukan mereka (karena sebagian besar sudah bekerja di luar kota) banyak yang tidak datang. Sebagian yang tidak datang karena undangan tidak sampai ke tangan mereka, sehingga ragu untuk datang. Sebagian lagi masih ada kunjungan ke saudara karena masih suasana lebaran.

Ketika pertama datang, wajah mereka masih sama ketika terakhir kami bertemu. Hanya saja aku sedikit terkejut melihat teman kami yang merubah total penampilannya. Dulunya dia laki-laki dengan rambut pendek yang dipotong rapi kini rambutnya panjang se bahu, ikal dan sebagian rambutnya berwarna pirang. Tapi aku tidak peduli dengan hal itu karena sejak dulu dia sudah ada tanda-tanda akan menjadi seperti ini. Aku berpikir bahwa di benaknya tidak ada pikiran untuk merubah nasibnya menjadi lebih baik, meningkatkan taraf perekonomian keluarganya.

Masalah nasib, aku juga tak menyangka karena sebagian dari mereka bisa merubah nasibnya menjadi lebih baik, namun tidak pada sebagian yang lain yang memiliki nasib yang kurang baik. Mereka yang bernasib baik, yaitu mereka yang awalnya "tidak diunggulkan" semasa SD dulu ternyata mampu melanjutkan pendidikan sampai kuliah karena aku pikir mereka akan lebih memilih bekerja untuk membantu perekonomian keluarga. Sedangkan laki-lakinya tentu lebih memilih bekerja keluar kota bahkan sampai menjadi TKI di luar negeri untuk membantu perekonomian keluarga. Sedangkan mereka yang nasibnya kurang baik, lebih memilih putus sekolah dan bekerja padahal dulunya mempunyai potensi untuk melanjutkan pendidikan sampai kuliah bahkan tak sedikit dari mereka yang menikah di usia dini karena "kecelakaan" yang tidak diinginkan. Ditambah lagi salah satu teman kami yang dulunya selalu mendapat ranking di kelas, ikut terjebak di pernikahan dini. Hal ini yang membuatnya terhambat untuk melanjutkan pendidikan.

Kejadian seperti ini membuktikan bahwa kemampuan akademik saja tidak cukup untuk menghadapi kerasnya hidup. Hanya orang-orang yang dibekali attitude yang baik lah yang bisa menghadapi kerasnya hidup, karena orang pintar pun bisa tergerus oleh kerasnya hidup jika tidak dibekali attitude yang baik.


No comments:

Post a Comment