Masa MI (SD) mungkin adalah masa yang paling nakal yang aku perbuat. Awalnya memang aku seorang pendiam, cupu dan selalu taat pada peraturan. Hal itu berubah saat aku menginjak kelas 3 SD. Di mana aku sudah mulai mengenal teman-teman sekelas. Waktu itu aku sudah mulai berani keluyuran sampai sore walaupun sampainya di rumah kena marah sama Ibuku. Tapi aku memang sudah bandel sejak kecil jadi kena marah itu hal yang biasa.
Lebih parah lagi saat aku naik kelas empat. Saat itu aku sudah mendapatkan teman baik yang selalu main bersama-sama. Dengan bermodalkan sepada aku sudah memberanikan diri untuk mengayuh sepeda jauh ke luar desa bersama teman-temanku itu. Petualangan ala anak SD mengayuh kemanapun mengikuti kata hati.
Kelas empat juga awal dari tumbuhnya benih-benih "cinta monyet" yang aku alami. Saar itu ada tiga orang anak perempuan pindahan dari SD desa sebelah yang mempunyai paras yang cantik. Banyak anak laki-laki yang naksir pada salah satu dari mereka. Yang paling cantik tentunya. Mungkin kalau hal tersebut dibuat kompetisi akan seru. Bagaimana tidak? Semua anak laki-laki yang mempunyai "nama" di kelas berebut naksir kepadanya. Gosip-gosip pun mulai bertebaran tak karuan.
Pernah suatu kali aku dan teman-teman mencoba datang ke rumah anak itu. Nyatanya setelah dekat dengan rumahnya kami hanya berani mengintip dari kejauhan. Ada di antara kami yang ngotot ingin masuk ke rumahnya hanya untuk minta minum. Sungguh konyol. Kami tidak mau mempertaruhkan harga diri kami hanya untuk perbuatan konyol itu.
Waktu liburan semester sepupuku yang sudah kelas lima SD disunat. Tak lama berselang aku pun minta untuk disunat. Sebelum disunat aku disuguhkan teh hangat yang sudah dicampuri obat bius. Setelah beberapa lama obat itu bereaksi, dicubit pun tak terasa. Saat disunat aku tak beranikan diri untuk melihat langsung tapi tak terasa apapun.
Musibah datang ketika sampai di rumah. Hal itu terjadi ketika aku terus menerus buang air kecil. Dari ruang tengah menuju kamar mandi aku berjalan sendiri begitu seterusnya. Setelah beberapa kali aku merasa pegal di bagian itu dan terjadi pendarahan. Darah terus mengucur sampai badanku lemas. Orangtuaku langsung menghubungi dokter sunat yang telah menyunatku. Sekitar jam 10 malam dokter datang dengan mobilnya. Aku langsung dilarikan ke puskesmas terdekat. Di sana dokter membetulkan jahitan yang lepas yang telah membuat pendarahan. Aku dirawat inap selama beberapa hari. Setelah pulang, di rumah diadakan slamatan. Aku minta pada orangtuaku untuk membuat slamatan yang sederhana saja yang penting tetangga dan sanak saudara bisa datang.
Dan benar saja hikmah dari pendarahan yang lalu membawa berkah. Sanak saudara datang memberi angpau yang totalnya 700 ribu lebih. Aku senang tak terbayangkan tapi namanya saja masih kecil jadi uang dipegang sama ibu. Karena uang angpau yang begitu banyak aku minta dibelikan HP. Waktu itu HP Nokia 2300 sudah terbilang kelas menengah karena sudah ada fitur radionya cukup bisa membuatku bangga.
Seiring dengan naik kelas umurku juga semakin bertambah. Semakin aku suka pada lawan jenis. Meskipun masih kecil tapi rasa itu benar-benar membuat hati ini berbunga-bunga. Apalagi saat dia sempat "merespon". Hal ini hanya aku ceritakan pada salah satu teman baikku. Waktu itu aku memang belum bisa mengutarakan perasaanku dengan terbuka jadi aku hanya mengangumi dari jauh. Tapi meskipun begitu aku bisa menjaili dia meskipun dia tidak merasa apa maksud jailanku itu.
Sudah banyak yang aku ceritakan pada masa MI-ku. Sekarang adalah puncaknya saat aku duduk di kelas 6. Saat-saat terbaikku waktu aku di MI. Saat itu aku ikut lomba MIPA, Mapel Umum, Drum Band dan Gerak Jalan semuanya terjadi saat aku kelas 6. Semuanya mendapat juara terkecuali MIPA karena memang sebenarnya bukan bidangku.
Suatu ketika aku terpilih menjadi peserta lomba Mapel Umum untuk mewakili sekolahku. Aku bersama teman satu kelasku perempuan. Menjelang lomba hari-hariku diisi dengan latihan. Dan entah kenapa baru beberapa hari ikut latihan aku berniat untuk mengundurkan diri. Hal itu pun benar terjadi aku mengundurkan diri tanpa alasan yang jelas. Aku digantikan oleh temanku yang lain.
Sesampainya di rumah aku ceritakan semuanya pada ayahku. Dia kecewa. Tapi dengan penuh kesabaran dia memberiku pengertian dan nasihat-nasihat yang akhirnya meluluhkan hatiku untuk ikut kembali ke lomba tersebut. Dengan datang ke guru yang melatih kami. Ayahku meminta agar aku kembali ke lomba. Memang awalnya aku yang dipilih jadilah aku kembali berlatih. Setiap hari kini ku berlatih kembali tapi kali ini tidak hanya dua anak tapi ada satu anak lagi yaitu temanku yang sempat menggantikanku masih ikut berlatih.
Hari itu pun tiba. Kini saatnya aku datang ke kabupaten untuk ikut lomba. Dari kontingen Kecamatan Larangan ada beberapa anak lagi perwakilan dari sekolah mereka yang ikut. Tentunya untuk mapel yang berbeda. Tapi aku merasa tak enak hati karena temanku itu tidak bisa ikut. Karena jatah dari sekolah kami hanya dua anak saja. Aku tak bisa berbuat apa-apa. Dia sudah terlanjur memakai seragam putih merah tapi tak bisa ikut. Hanya kabar yang aku dengar dari teman satu kelasku bahwa dia menangis di kelas karena tak bisa ikut. Benar-benar tak enak hati aku kepadanya.
Kami pun tiba di sebuah sekolah MI Negeri. kalau dibandingkan dengan sekolahku pastilah lebih bagus sekolahku. Sekolah ini berada di pinggiran kota dan berhadapan langsung sengan rel kereta api. Pasti murud-murid di sini sangat terganggu jika ada kereta milintas atau justru kegirangan melihat kereta yang melintas entahlah yang jelas jika aku yang mengalami aku akan terganggu.
Canggung rasanya jika bertemu dengan anak baru. Tidak seperti temanku satu sekolah dia langsung akrab dengan peserta lomba lain satu kontingen. Aku hanya bisa duduk dan berdiri saja tidak ada yang aku lakukan rasanya ingin cepat-cepat lomba dimulai agar aku bisa melakukan hal lain selain duduk dan berdiri. Pengeras suara berbunyi berkata agar kita kumpul di tengah lapangan. Upacara pembukaan segera dimulai dengan seorang kepala sekolah yang berdiri di mimbar sebagai pembina upacara. Setelah pidato singkat dari bapak kepala sekolah kami pun masuk kelas untuk mengikuti lomba. Tahap pertama kami mengikuti ujian tertulis. Soal-soalnya berupa pengetahuan umum yang sering kita dengar dan soal-soal bahasa Indonesia. Tahapan ini aku lewati dengan baik. Dengan jeda waktu istirahat sebentar tahapan ke dua pun dimulai. Tahapan kedua ini merupakan ujian lisan. Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan kebanyakan materi bahasa Indonesia dan dengan percaya diri aku menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut dengan yakin.
Ujian lisan berlangsung tak lama. Setelah selesai aku istirahat dengan makan bakso untuk mengganjal perutku yang keroncongan. Belum juga makan aku sudah dipanggil untuk mengikuti tahapan akhir. Ujian tertulis tapi soal-soal ini benar-benar sulit dan di luar dugaanku. Setelah melanjutkan makan, terdengar pengumuman dari pengeras suara untuk pemenang lomba. Aku disebut dalam pengumuman tersebut sebagai juara ke 3. Aku hanya diam tak percaya apa yang ku dengar tapi aku puas dengan hasil yang ku peroleh maraih juara 3 tidaklah buruk.
Waktu cepatlah berlalu tak terasa sebentar lagi ujian akhir sekolah. Dalam mempersiapkan ujian akhir sekolah mengadakan les tambahan untuk mengulang pelajaran-pelajaran di kelas sebelumnya. Selama satu semester kami belajar pagi dan sore untuk pelajaran tambahan. Suasana seperti inilah yang aku rindukan. Berasa seperti bersiap untuk terjun ke medan perang. Namun saat ujian tiba aku tidak belajar sedikitpun. Mungkin aku sedikit sombong karena predikat juara yang aku dapat. Tapi karena kesombonganku itulah yang membuat aku kewalahan menghadapi ujian. Dengan modal nekat aku tetap mengerjakan soal-soal ujian dengan percaya diri.
Ujian pun berlalu kini saatnya pengumuman hasil kelulusan. Walaupun hanya modalnekat menghadapi ujian tapi aku tetap lulus dan mendapatkan hasil tidak buruk. Senang sekaligus sedih meninggalkan teman-teman terbaikku yang telah menemani di masa kecilku. Sebenarnya masih banyak cerita yang belum aku tulis di sini tapi cukuplah dulu mungkin suatu saat akan aku lengkapi cerita ini.
Dan benar saja hikmah dari pendarahan yang lalu membawa berkah. Sanak saudara datang memberi angpau yang totalnya 700 ribu lebih. Aku senang tak terbayangkan tapi namanya saja masih kecil jadi uang dipegang sama ibu. Karena uang angpau yang begitu banyak aku minta dibelikan HP. Waktu itu HP Nokia 2300 sudah terbilang kelas menengah karena sudah ada fitur radionya cukup bisa membuatku bangga.
Seiring dengan naik kelas umurku juga semakin bertambah. Semakin aku suka pada lawan jenis. Meskipun masih kecil tapi rasa itu benar-benar membuat hati ini berbunga-bunga. Apalagi saat dia sempat "merespon". Hal ini hanya aku ceritakan pada salah satu teman baikku. Waktu itu aku memang belum bisa mengutarakan perasaanku dengan terbuka jadi aku hanya mengangumi dari jauh. Tapi meskipun begitu aku bisa menjaili dia meskipun dia tidak merasa apa maksud jailanku itu.
Sudah banyak yang aku ceritakan pada masa MI-ku. Sekarang adalah puncaknya saat aku duduk di kelas 6. Saat-saat terbaikku waktu aku di MI. Saat itu aku ikut lomba MIPA, Mapel Umum, Drum Band dan Gerak Jalan semuanya terjadi saat aku kelas 6. Semuanya mendapat juara terkecuali MIPA karena memang sebenarnya bukan bidangku.
Suatu ketika aku terpilih menjadi peserta lomba Mapel Umum untuk mewakili sekolahku. Aku bersama teman satu kelasku perempuan. Menjelang lomba hari-hariku diisi dengan latihan. Dan entah kenapa baru beberapa hari ikut latihan aku berniat untuk mengundurkan diri. Hal itu pun benar terjadi aku mengundurkan diri tanpa alasan yang jelas. Aku digantikan oleh temanku yang lain.
Sesampainya di rumah aku ceritakan semuanya pada ayahku. Dia kecewa. Tapi dengan penuh kesabaran dia memberiku pengertian dan nasihat-nasihat yang akhirnya meluluhkan hatiku untuk ikut kembali ke lomba tersebut. Dengan datang ke guru yang melatih kami. Ayahku meminta agar aku kembali ke lomba. Memang awalnya aku yang dipilih jadilah aku kembali berlatih. Setiap hari kini ku berlatih kembali tapi kali ini tidak hanya dua anak tapi ada satu anak lagi yaitu temanku yang sempat menggantikanku masih ikut berlatih.
Hari itu pun tiba. Kini saatnya aku datang ke kabupaten untuk ikut lomba. Dari kontingen Kecamatan Larangan ada beberapa anak lagi perwakilan dari sekolah mereka yang ikut. Tentunya untuk mapel yang berbeda. Tapi aku merasa tak enak hati karena temanku itu tidak bisa ikut. Karena jatah dari sekolah kami hanya dua anak saja. Aku tak bisa berbuat apa-apa. Dia sudah terlanjur memakai seragam putih merah tapi tak bisa ikut. Hanya kabar yang aku dengar dari teman satu kelasku bahwa dia menangis di kelas karena tak bisa ikut. Benar-benar tak enak hati aku kepadanya.
Kami pun tiba di sebuah sekolah MI Negeri. kalau dibandingkan dengan sekolahku pastilah lebih bagus sekolahku. Sekolah ini berada di pinggiran kota dan berhadapan langsung sengan rel kereta api. Pasti murud-murid di sini sangat terganggu jika ada kereta milintas atau justru kegirangan melihat kereta yang melintas entahlah yang jelas jika aku yang mengalami aku akan terganggu.
Canggung rasanya jika bertemu dengan anak baru. Tidak seperti temanku satu sekolah dia langsung akrab dengan peserta lomba lain satu kontingen. Aku hanya bisa duduk dan berdiri saja tidak ada yang aku lakukan rasanya ingin cepat-cepat lomba dimulai agar aku bisa melakukan hal lain selain duduk dan berdiri. Pengeras suara berbunyi berkata agar kita kumpul di tengah lapangan. Upacara pembukaan segera dimulai dengan seorang kepala sekolah yang berdiri di mimbar sebagai pembina upacara. Setelah pidato singkat dari bapak kepala sekolah kami pun masuk kelas untuk mengikuti lomba. Tahap pertama kami mengikuti ujian tertulis. Soal-soalnya berupa pengetahuan umum yang sering kita dengar dan soal-soal bahasa Indonesia. Tahapan ini aku lewati dengan baik. Dengan jeda waktu istirahat sebentar tahapan ke dua pun dimulai. Tahapan kedua ini merupakan ujian lisan. Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan kebanyakan materi bahasa Indonesia dan dengan percaya diri aku menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut dengan yakin.
Ujian lisan berlangsung tak lama. Setelah selesai aku istirahat dengan makan bakso untuk mengganjal perutku yang keroncongan. Belum juga makan aku sudah dipanggil untuk mengikuti tahapan akhir. Ujian tertulis tapi soal-soal ini benar-benar sulit dan di luar dugaanku. Setelah melanjutkan makan, terdengar pengumuman dari pengeras suara untuk pemenang lomba. Aku disebut dalam pengumuman tersebut sebagai juara ke 3. Aku hanya diam tak percaya apa yang ku dengar tapi aku puas dengan hasil yang ku peroleh maraih juara 3 tidaklah buruk.
Waktu cepatlah berlalu tak terasa sebentar lagi ujian akhir sekolah. Dalam mempersiapkan ujian akhir sekolah mengadakan les tambahan untuk mengulang pelajaran-pelajaran di kelas sebelumnya. Selama satu semester kami belajar pagi dan sore untuk pelajaran tambahan. Suasana seperti inilah yang aku rindukan. Berasa seperti bersiap untuk terjun ke medan perang. Namun saat ujian tiba aku tidak belajar sedikitpun. Mungkin aku sedikit sombong karena predikat juara yang aku dapat. Tapi karena kesombonganku itulah yang membuat aku kewalahan menghadapi ujian. Dengan modal nekat aku tetap mengerjakan soal-soal ujian dengan percaya diri.
Ujian pun berlalu kini saatnya pengumuman hasil kelulusan. Walaupun hanya modalnekat menghadapi ujian tapi aku tetap lulus dan mendapatkan hasil tidak buruk. Senang sekaligus sedih meninggalkan teman-teman terbaikku yang telah menemani di masa kecilku. Sebenarnya masih banyak cerita yang belum aku tulis di sini tapi cukuplah dulu mungkin suatu saat akan aku lengkapi cerita ini.
No comments:
Post a Comment