Saturday, 28 May 2016

Sabari dan Marlena

Kisah cinta Sabari dan Marlena sungguh mengharukan. Sabari yang selalu mengejar-ngejar Marlena namun tidak ada tanggapan positif darinya. Sabari tidak menyerah begitu saja dia sudah kadung dimabuk asmara, gila oleh cinta, seperti namanya Sabari, dia selalu sabar menghadapi perlakuan dari Marlena dan selalu menunggu hingga pintu hatinya terbuka untuk Sabari. Purnama kedua belas begitulah dia menyebut Marlena di setiap puisi-puisi yang dia buat.
Sabari pernah memiliki Marlena sabagai seorang istri namun kelakuannya tidak mencerminkan seorang istri, dia jarang di rumah hanya sesekali saja dia di rumah. Marlena pastilah tidak betah tinggal serumah dengan orang yang tidak dia cintai, dia menikah dengan Sabari hanya karena terpaksa dia sudah berbadan dua sebelum menikah tapi pelakunya bukan Sabari. Walau bagaimana pun Sabari tetap cinta dengan Marlena sampai akhirnya mereka bercerai.
Sampai akhir hayatnya dia tetap mencintai satu wanita yaitu Marlena. Ada satu kalimat yang tertulis di batu nisannya yang membuat semua orang berhenti untuk membacanya, biarkan aku mati dalam keharuman cintamu. Sebelum Marlena meninggal, dia meminta sesuatu pada anaknya untuk menuliskan purnama kedua belas di batu nisannya. (Kutipan novel "Ayah". Penulis: Andrea Hirata).
Kisah cintaku mungkin tak jauh beda dengan Sabari dan Marlena. Aku mendekat dia menjauh. Kami menjauh kita tak saling kenal. Perbedaan derajat yang begitu jauh membuatnya memilih lelaki lain yang sederajat dengannya. Aku sadar, aku tidak akan pernah mendapatkan cintanya dengan kondisiku sekarang, dia tidak akan mau menurunkan derajatnya hanya untuk memilihku. Tapi aku tidak mau mati dengan kondisi serupa Sabari, mencintai satu wanita yang tidak pernah ia miliki. Aku berharap suatu hari nanti bisa menemukan wanita yang bisa mengisi kekosongan di hatiku ini.

No comments:

Post a Comment