Sepuluh tahun, sepuluh tahun aku menunggu untuk menyatakan perasaanku. Aku hitung dari pertama aku melihatmu. Aku melihat seorang wanita yang mungkin kelak akan menjadi pendamping hidupku. Dulu memang aku tak berani menyatakan perasaanku karena memang banyak hambatan, aku minder. Aku hanya berani menyapamu lewat SMS, menemaniku sebelum tidur, membuat sapaan mesra yang nyatanya aku tak berani mengucapkannya langsung. Mungkin kamu ingat waktu dulu pulang study tour kamu kehilangan film fotomu bersama temanmu yang (ehem) sama pendeknya? Itu aku yang menyimpannya. Tapi aku kembalikan setelah kita lulus, tepatnya di lobby MTs (semoga kamu mengingatnya). Aku mengembalikan itu bukannya aku ingin melupakanmu tapi agar kamu tau aku masih memendam perasaan itu tanpa harus mengatakannya.
Sungguh malang nasibku ketika aku sempat ditikung teman sendiri. Diam-diam kamu pacaran sama temanku, kenapa? Ah sudahlah, sudah jelas jawabannya. Dari segi fisik dia unggul jauh dariku, dia juga berani menyatakan perasaannya. Dibandingakan denganku yang tampang seadanya, cengeng, cuma jadi bahan bully di kelas. Jelas, aku bukan apa-apa. Tapi aku tidak mau larut dalam kesedihan, bisa hidup untuk besok saja aku bahagia apalagi bisa melihatmu tersenyum bisa membuatku lebih bahagia.
Setelah lulus MTs ingin aku buang semua kenangan yang menggangguku di masa lalu. Aku memang sengaja tak mengajak satupun orang biar tak ada masa lalu yang mengikuti, kecuali kamu. Aku masih berharap masih bisa bertemu denganmu sesekali minimal setiap libur sekolah, itulah alasanku mau datang kumpul bareng. Di perjalananku setelah lulus memang ada beberapa wanita yang singgah di hatiku tapi jika mengingatmu ingin rasanya aku punya kesempatan lagi untuk mengungkapkan perasaanku. Sungguh menyesal, andai saja aku punya keberanian waktu itu.
Waktu terus berjalan hingga kuliah, aku masih berharap waktu itu tiba. Ketika aku sudah terbiasa bercanda aku coba mulai melontarkan candaan ringan. Aku sedikit tersadar, mungkin aku punya sedikit kesempatan ketika aku melontarkan candaan garing namun hanya kamu yang bisa tersenyum manis, aku lihat senyummu itu tulus. Pintu tak lagi terkunci. Saat itulah aku mulai berani mengajakmu jalan, mengajakmu nonton tapi seperti yang kamu lihat aku masih tak banyak bicara. Kamu benar-benar membuatku tak berdaya, berbeda jika aku bersama wanita lain aku begitu mudah bicara dan bercanda. Atau mungkin selama ini kamu memakai amalan khusus sehingga membuatku tak berdaya (just kidding).
Aku coba untuk yang kedua kalinya mengajakmu jalan, tetapi kamu menolaknya dengan berbagai alasan yang mungkin kamu buat-buat. Sebenarnya waktu itu aku sudah memantapkan diri untuk menyatakan perasaanku tapi aku bukan menginginkan kamu menjadi pacarku lebih tepatnya waktu itu aku ingin melamarmu (secara pribadi). Tapi mungkin kamu sudah punya yang lain (pikirku). Aku sudah merasa tak ada harapan lagi buatku. Aku menyerah.
Setelah beberapa bulan tiba-tiba kamu memulai chat, aku pikir cuma basa basi. Namun setelah beberapa saat mulai terasa asik. Mungkin pintu tak sepenuhnya terkunci. Aku coba menyakinkan diriku dengan mengirim chat yang agak baper, kamu tak menjauh (semakin percaya diri). Untuk lebih yakin, aku coba meminta nasihat dari salah satu sahabatmu dan aku mendapatkan jawaban yang positif. Aku coba nyatakan perasaanku dan aku tak menduga kamu mau menerimaku. Tak sia-sia sepuluh tahun ini.
Biar baru berjalan dua bulan, ada saja masalah yang dihadapi. Jujur, aku sebenarnya ingin jauh mengenalmu dengan cerita-cerita ringan di kehidupanmu, ringan tapi susah diwujudkan dari situ muncul lah masalah. Aku tak ingin melihatmu bersanding dengan pria lain walaupun hanya di sebuah frame foto, karena itu membuatku merasa hancur (tak penting dan tak dipedulikan) dan muncul lah masalah. Apa mungkin caraku menyayangimu yang salah? Salah ya jika aku takut kehilanganmu? Salah ya jika aku terlalu sayang padamu? Aku tak ingin hubungan ini kandas begitu saja. Aku akan mencoba berbagai cara untuk mempertahankanmu. Aku tak ingin penantianku selama ini berakhir sia-sia.
Ajari aku cara menyayangimu yang benar. Ajari aku cara mengenalmu yang benar, yang membuatmu nyaman. Jangan hanya diam apalagi menjauh, itu tak menyelesaikan masalah. Aku juga ingin tau apa maumu biar hubungan kita baik-baik saja. Aku kurang pengalaman tentang masalah ini, jadi tolong ajari aku bagaimana caranya biar kamu nyaman.
No comments:
Post a Comment